Disable Preloader

Berada di ketinggian dan dekat dengan daerah wisata pemandian air panas Bora, Sigi salah seorang warga memghampiri Ambulance Team Medis IMS, dia meminta bantuan dokter relawan berkenan datang ke tenda mereka yang berada disalah satu lajur jalan raya. Team yang tiba disambut beberapa orang keluarga lalu menyaksikan seorang nenek tua dengan tubuh kurus terbaring beralaskan kasur tipis dengan kaki diperban.

Beberapa jam sebelumnya ada team medis salah satu partai memberikan layanan dikarenakan keterbatasan perlengkapan nenek hanya mendapatkan balutan dikaki yang terluka dan patah. Team medis IMS membuka ulang balutan serta membersihkan luka dengan pelayanan terbaik lalu memberikan sepalak untuk menyanggah kaki nenek yang patah.

Selesai memberikan tindakan team kembali dijemput untuk datang ke rumah Bapak Hendarto, salah seorang korban bencana gempa dan tsunami palu, Sigi, dan Donggala. Bapak Hendarto mempersilakan Layanan kesehatan menggunakan rumahnya, beliau juga memanggil masyarakat sekitar agar datang untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Baca | Pengungsi Palu Sebagian Lebih Butuh Makanan dan Layanan Kesehatan

"Baru hari ini medis sampai ke desa kami pak, sebelumnya kami bingung harus berobat kemana ? Mau turun jarak cukup jauh. Alhamdulillah kebetulan bapak-bapak datang ke tempat kami, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya." Ungkap Bapak Hendarto, setelah ayahnya mendapat layanan sebab menderita asma dan terbaring pasca gempa yang datang pada 28 September yang lalu.

Baca | IMS terus bergerak melayani

Setiap lokasi yang dikunjungi team medis selalu ada tindakan karena banyak dari korban bencana yang menderita patah tulang tertimpa bangunan, atau luka-luka terkena barang-barang ketika berusaha menyelamatkan diri ketik gempa datang. Meski masih ada beberapa bangunan rumah yang utuh, masyarakat tetap menggunakan tenda didepan masing-masing bangunan rumah. Masyarakat korban Bencana  juga belum berniat kembali karena masih mengalami trauma. Hampir setiap hari getaran gempa masih terasa di wilayah palu, sigi, dan Donggala hal tersebut membuat mereka enggan kembali ke dalam bangunan rumah yang sewaktu-waktu bisa saja rubuh jika gempa berkekuatan besar kembali datang.

Share:

Tags:

Comments
Leave a Comment