Disable Preloader

Akivitas gunung sinabung masih sangat tinggi, setiap hari terus mengeluarkan asap & abu vulkanik. Suara gemuruh dan sesekali disertai dentuman terdengar sangat jelas dari jarak 5 km dari sinabung. Warga Karo yang berdekatan dengan Sinabung masih banyak yang berada di pengungsian. Saat ini tercatat jumlah pengungsi berjumlah 11. 156 jiwa terdiri dari balita, anak-anak, orang dewasa dan para lansia. Lokasi pengungsian ini tersebar di 16 titik, mereka berada di Jambur, gereja dan tenda-tenda yang disiapkan oleh BNPD.

Pada hari Sabtu 1 Agustus 2015 untuk yang kesekian kalinya Islamic Medical Service (IMS) mengirimkan team medisnya untuk memberikan layanan kesehatan kepada para pengungsi korban erupsi gunung sinabung. Team yang beranggoatakan dr. Syaifuddin Hamid & dr. Rendra dibantu oleh Darmono relawan IMS yang berada di Brastagi. Mereka mengunjungi satu-persatu lokasi pengungsian yang tersebar dibeberapa titik lokasi yang berbeda. Layanan yang diberikan IMS meliputi : Trauma Healing kepada para lansia & balita melalui pendekatan agama dan psikologi, pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan konsultasi kesehatan.

“Kami tidak hanya melakukan pengobatan semata, namun kami juga berdialog dengan para pengungsi yang berkumpul di posko. Jadi tidak hanya yang sakit saja kami layani, mereka-mereka yang sehat juga banyak bertanya mengenai bagaimana menjaga kesehatan di posko maupun ketika beraktivitas”. Kata dr. Syaifuddin Hamid.

Ada 3 lokasi pengungsian dikunjungi oleh IMS, pertama di Jambur Desa Tongkoh Kecamatan  Simpang Empat Kabupaten Karo. Di lokasi ini tercatat kurang lebih 2.756 jiwa. Lokasi kedua di desa Peceren Kecamatan Brastagi Kabupaten Karo, ada 1.526 jiwa jumlah pengungsi dilokasiini. Kedua lokasi ini kebanyakan balita & para lansia dan aksi pengobatan dilakukan pada siang hari. Kemudian pada malam hari atau selepas sholat maghrib, aksi dilakukan di lokasi yang ketiga yang berada di Gedung KNP Kabanjahe  jumlah 1.576 .

Dari semua lokasi pengungsian yang dikunjungi oleh IMS, pada lokasi yang ketigalah yang paling banyak pengungsinya. Hal ini dikarenakan para pengungsi sudah pada balik ke posko setelah pada siang harinya berladang. Para pengungsi sebagian besar menderita hypertensi, asma, maagh, gatal-gatal dan batuk. Tidak sedikit dari balita yang kebanyakan lahir di pengungsian menderita kekurangan gizi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh oleh team, bahwasanya para pengungsi tidak mengalami kekurangan akan kebutuhan pangan. Makan 3 kali sehari meskipun dengan seadanya mereka selalu dapatkan. Namun untuk kebutuhan yang lain mereka masih sangat butuhkan. Selain kesehatan kebutuhan sandang juga sangat mereka perlukan, selain itu kebutuhan penunjang yang lain mereka sangat harapkan. Karena selama 2 tahun di pengungsian mereka tidak mendapatkan income. Ladang yang merupakan sumber penghidupan mereka hancur karena erupsi.

Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, namun kehidupan mereka perlu kita perhatikan. Mari kita sisihkan harta kita untuk membantu mereka.

Share:

Tags:

Comments
Leave a Comment